Ingin kutemui kau diujung...
Yang harus kulalui oleh sakitnya derita
Yang melewati terjal bebatuan penghalang cita
Sesaknya penantian yang seakan tiada batas
Semakin ingin kutemui ...
Tertebar benih-benih dahaga dan kehampaan
Kerinduan itu, menghujam tiba-tiba
Seakan tak menghiraukan siapa saja yang datang
Seakan tak mendengar alam yang meraung
Dibawah sana....
Kesendirianku bersama-Nya
Bagai satu cahaya yang ingin kuraih
Karena keraguan yang menyellinap
Menyamarkan kerinduan dengan kerinduan yang hakiki
Namun,...
Sebuah alunan syahdu nuraniku
Mengalir pasti, pantang menyerah
Membawaku menuju...
Pucuk-Pucuk Kerinduan
(300801-terbesit kenangan bersama semilir angin dan gemerlap bintang dilangit dipuncak Panderman)
Blog ini adalah tempat untuk berkisah tentang apapun yang bisa menghadirkan pelangi dihatiku...
^_^
Showing posts with label Sajak-sajak Rindu. Show all posts
Showing posts with label Sajak-sajak Rindu. Show all posts
Friday, 16 January 2009
HATI
Sebuah hati telah membisu
Tertutup rapat dihiasi debu-debu
Pikirannya melayang …
Melantunkan bait-bait puisi kosong
Tak bermakna...
Iri mendengar saat dibacakannya
Sajak-sajak indah Taufik Ismail
Atau puisi beken karya Choiril Anwar
Namun kini hatinya beku
Pikirannya melayang
Melantunkan bait-bait puisi kosong
Tiada arti
Tak bersyukur melihat puisi alam nan indah
Karya Maha Sempurna milik Tuhan
Ada satu kerinduan yang tak mampu
Ia tuangkan dalam bait-bait suara,
Lagu, puisi, atau bahkan do’a
Pikirannya melayang dan hanya mampu
Melantunkan bait-bait puisi kosong
Dan iapun tak tau maksudnya
Hingga ia memahami sebuah arti
Hanya dia dan Tuhannya yang tau jawabnya
(pertengahan 2000)
Pucuk-Pucuk Kerinduan
(Panderman II)
Ku tatap pucuk-pucuk Kerinduan
Lalu kumelangkah...
menepis dingin....
Membiarkan bayu malam
Menerpa bayanganku
Hingga nafas yang tersebgalAsaku mulai pupus
Kutatap pucuk-pucuk Kerinduan
Lalu setetes air,membasahi kerongkongan
Menanamkan kembali rindu di kalbu
Dan membakar asa yang mulai padam
Mendobrak langkah
Menggapai rindu
Disana pucuk-pucuk Kerinduan
Lalui jalanan berliku dan menanjak
Licin dan berdebu…
Diselimuti Kabul tabal
Yang menyesakkan paru-paru
Melewati batu-batu termal
Dan semakin berat ‘tuk melangkahkan kaki
Namun pucuk-pucuk Kerinduan
Menyapa....
Meringankan kembali langkah
Perjalanan dibawah cahaya malam
Sesekali menengok serpihan
Mutiara dibawah sana
Menikmati hamparan luas malam
Lukisan sang Esa
Ditemani sepoi-sepoi malam
Berlindung satu bintang diatasnya
Mendekatkan kalbuku pada Kekasih
Ketika terasa kaki ini menapak
Pada pucuk kerinduan
Merasa takjub dan syukur tiada hingga
Walau ternyata...
Terlihat saja samar Negeri Atas Awan
Dan...Kerinduan munajat-Mu belum terobati
Karena satu titik noda dihati
Tapi ingin tetap kugapai...
Pucuk-pucuk Kerinduan
(180701)
Tertutup rapat dihiasi debu-debu
Pikirannya melayang …
Melantunkan bait-bait puisi kosong
Tak bermakna...
Iri mendengar saat dibacakannya
Sajak-sajak indah Taufik Ismail
Atau puisi beken karya Choiril Anwar
Namun kini hatinya beku
Pikirannya melayang
Melantunkan bait-bait puisi kosong
Tiada arti
Tak bersyukur melihat puisi alam nan indah
Karya Maha Sempurna milik Tuhan
Ada satu kerinduan yang tak mampu
Ia tuangkan dalam bait-bait suara,
Lagu, puisi, atau bahkan do’a
Pikirannya melayang dan hanya mampu
Melantunkan bait-bait puisi kosong
Dan iapun tak tau maksudnya
Hingga ia memahami sebuah arti
Hanya dia dan Tuhannya yang tau jawabnya
(pertengahan 2000)
Pucuk-Pucuk Kerinduan
(Panderman II)
Ku tatap pucuk-pucuk Kerinduan
Lalu kumelangkah...
menepis dingin....
Membiarkan bayu malam
Menerpa bayanganku
Hingga nafas yang tersebgalAsaku mulai pupus
Kutatap pucuk-pucuk Kerinduan
Lalu setetes air,membasahi kerongkongan
Menanamkan kembali rindu di kalbu
Dan membakar asa yang mulai padam
Mendobrak langkah
Menggapai rindu
Disana pucuk-pucuk Kerinduan
Lalui jalanan berliku dan menanjak
Licin dan berdebu…
Diselimuti Kabul tabal
Yang menyesakkan paru-paru
Melewati batu-batu termal
Dan semakin berat ‘tuk melangkahkan kaki
Namun pucuk-pucuk Kerinduan
Menyapa....
Meringankan kembali langkah
Perjalanan dibawah cahaya malam
Sesekali menengok serpihan
Mutiara dibawah sana
Menikmati hamparan luas malam
Lukisan sang Esa
Ditemani sepoi-sepoi malam
Berlindung satu bintang diatasnya
Mendekatkan kalbuku pada Kekasih
Ketika terasa kaki ini menapak
Pada pucuk kerinduan
Merasa takjub dan syukur tiada hingga
Walau ternyata...
Terlihat saja samar Negeri Atas Awan
Dan...Kerinduan munajat-Mu belum terobati
Karena satu titik noda dihati
Tapi ingin tetap kugapai...
Pucuk-pucuk Kerinduan
(180701)
RIOT
Wahai...
Kepada siapa hendak kutanyakan
Sesuatu yang tak kumengerti
Padahal aku tau sesuatu itu dihadapanku
Saat ini ...
Aku berdiri disini, dan aku tau...
Dimana aku kini
Disuatu negeri asing, didunia lain
Tidak...tidak...
Aku kenal negeri ini, aku dekat
Aku tau dan aku sadar aku tetap disini
Wahai...
Kepada siapa hendak kutanyakan...
Bagaimana bisa kuraih harapan
Padahal aku tau sesuatu itu dihadapanku
Sedang aku tak mengenali
Ya...
Kenal...kenali apa yang terjadi pada dirimu
(july 2000)
Kepada siapa hendak kutanyakan
Sesuatu yang tak kumengerti
Padahal aku tau sesuatu itu dihadapanku
Saat ini ...
Aku berdiri disini, dan aku tau...
Dimana aku kini
Disuatu negeri asing, didunia lain
Tidak...tidak...
Aku kenal negeri ini, aku dekat
Aku tau dan aku sadar aku tetap disini
Wahai...
Kepada siapa hendak kutanyakan...
Bagaimana bisa kuraih harapan
Padahal aku tau sesuatu itu dihadapanku
Sedang aku tak mengenali
Ya...
Kenal...kenali apa yang terjadi pada dirimu
(july 2000)
GAMANG
Saat ini aku berdiri menatap langit...
Sementara anganku jauh menerawang...
Mencari suatu titik
Sebelum aku menyadari dimana...
Dan sedang apa aku kini....
Sehingga,
Aku bertanya, aku bertanya kepadamu...
Apa????
Mengapa???
Dimana???
Untuk Apa???
Aku tau jawabanya, tapi aku tak tau
Aku tau, tapi tak bisa kurengkuh
Asa itu jauh ...
Dan hampir putus asa
Sebuah tulisan bermakna, tapi tak biisa diungkapkan
Sebuah goresan penuh arti, tapi sangat abstrak
Makna dan arti itulah yang dicari
Untuk mengerti sebuah tujuan
Tujuan akhir sebuah kehidupan
(July 2000)
Sementara anganku jauh menerawang...
Mencari suatu titik
Sebelum aku menyadari dimana...
Dan sedang apa aku kini....
Sehingga,
Aku bertanya, aku bertanya kepadamu...
Apa????
Mengapa???
Dimana???
Untuk Apa???
Aku tau jawabanya, tapi aku tak tau
Aku tau, tapi tak bisa kurengkuh
Asa itu jauh ...
Dan hampir putus asa
Sebuah tulisan bermakna, tapi tak biisa diungkapkan
Sebuah goresan penuh arti, tapi sangat abstrak
Makna dan arti itulah yang dicari
Untuk mengerti sebuah tujuan
Tujuan akhir sebuah kehidupan
(July 2000)
Pucuk-Pucuk Kerinduan (Panderman II)
Ku tatap pucuk-pucuk Kerinduan
Lalu kumelangkah...
menepis dingin....
Membiarkan bayu malam
Menerpa bayanganku
Hingga nafas yang tersebgalAsaku mulai pupus
Kutatap pucuk-pucuk Kerinduan
Lalu setetes air,membasahi kerongkongan
Menanamkan kembali rindu di kalbu
Dan membakar asa yang mulai padam
Mendobrak langkah
Menggapai rindu
Disana pucuk-pucuk Kerinduan
Lalui jalanan berliku dan menanjak
Licin dan berdebu…
Diselimuti Kabul tabal
Yang menyesakkan paru-paru
Melewati batu-batu termal
Dan semakin berat ‘tuk melangkahkan kaki
Namun pucuk-pucuk Kerinduan
Menyapa....
Meringankan kembali langkah
Perjalanan dibawah cahaya malam
Sesekali menengok serpihan
Mutiara dibawah sana
Menikmati hamparan luas malam
Lukisan sang Esa
Ditemani sepoi-sepoi malam
Berlindung satu bintang diatasnya
Mendekatkan kalbuku pada Kekasih
Ketika terasa kaki ini menapak
Pada pucuk kerinduan
Merasa takjub dan syukur tiada hingga
Walau ternyata...
Terlihat saja samar Negeri Atas Awan
Dan...Kerinduan munajat-Mu belum terobati
Karena satu titik noda dihati
Tapi ingin tetap kugapai...
Pucuk-pucuk Kerinduan
(180701)
Lalu kumelangkah...
menepis dingin....
Membiarkan bayu malam
Menerpa bayanganku
Hingga nafas yang tersebgalAsaku mulai pupus
Kutatap pucuk-pucuk Kerinduan
Lalu setetes air,membasahi kerongkongan
Menanamkan kembali rindu di kalbu
Dan membakar asa yang mulai padam
Mendobrak langkah
Menggapai rindu
Disana pucuk-pucuk Kerinduan
Lalui jalanan berliku dan menanjak
Licin dan berdebu…
Diselimuti Kabul tabal
Yang menyesakkan paru-paru
Melewati batu-batu termal
Dan semakin berat ‘tuk melangkahkan kaki
Namun pucuk-pucuk Kerinduan
Menyapa....
Meringankan kembali langkah
Perjalanan dibawah cahaya malam
Sesekali menengok serpihan
Mutiara dibawah sana
Menikmati hamparan luas malam
Lukisan sang Esa
Ditemani sepoi-sepoi malam
Berlindung satu bintang diatasnya
Mendekatkan kalbuku pada Kekasih
Ketika terasa kaki ini menapak
Pada pucuk kerinduan
Merasa takjub dan syukur tiada hingga
Walau ternyata...
Terlihat saja samar Negeri Atas Awan
Dan...Kerinduan munajat-Mu belum terobati
Karena satu titik noda dihati
Tapi ingin tetap kugapai...
Pucuk-pucuk Kerinduan
(180701)
Panderman (Panderman I)
Panderman....
Sebuah nama yang selalu mengusik hati
Sebuah nama yang entah kenapa...
Membuat hati rindu ’tuk kembali
Panderman....
Adalah sebuah penciptaan
Oleh Sang Maha Sempurna
Sebuah penciptaan yang menggetarkan mata hati
Panderman ...
Adalah sebuah lukisan alam
oleh sebaik-baik Pelukis
Adalah sebuah alunan kesejukan
penghapus angkara
dibawah sana....
Panderman....
Di puncakmu sesosok kehidupan berdiri
Menatap indahnya panoramamu
Menatap tenang malammu
Dikelilingi gemerlap lampu kota
Bak pecahan intan merata
Menatap sejuknya pagi nan elok
Menatap keindahan....
Negeri Atas Awan
(Awal Maret 2000)
Sebuah nama yang selalu mengusik hati
Sebuah nama yang entah kenapa...
Membuat hati rindu ’tuk kembali
Panderman....
Adalah sebuah penciptaan
Oleh Sang Maha Sempurna
Sebuah penciptaan yang menggetarkan mata hati
Panderman ...
Adalah sebuah lukisan alam
oleh sebaik-baik Pelukis
Adalah sebuah alunan kesejukan
penghapus angkara
dibawah sana....
Panderman....
Di puncakmu sesosok kehidupan berdiri
Menatap indahnya panoramamu
Menatap tenang malammu
Dikelilingi gemerlap lampu kota
Bak pecahan intan merata
Menatap sejuknya pagi nan elok
Menatap keindahan....
Negeri Atas Awan
(Awal Maret 2000)
The Blue Sea and The Blue Sky
At the afternoon
The blue sea had been come red
Similar to the blue sky
But it was beautiful
At the night
The blue sea had been come dark
Similar to the blue sky
There were stars gave lights
It was more beautiful
At the morning
The dark of the sea had been come the blue sea
Similar to the blue sky
There was sun rised
It was also beautiful
At the noon
The blue sea was the blue sea
Similar to to the blue sky
The wind moved coco trees
The blue sea and the blue sky
Looked so beautiful
I know
It’s a beautiful live
It’s a beautiful world
It’s a beautiful making
From Beautiful Maker
(Lagi belajar bahasa Inggris sepulang susur pantai Ngliyep-Bale kambang Maret 2000)
The blue sea had been come red
Similar to the blue sky
But it was beautiful
At the night
The blue sea had been come dark
Similar to the blue sky
There were stars gave lights
It was more beautiful
At the morning
The dark of the sea had been come the blue sea
Similar to the blue sky
There was sun rised
It was also beautiful
At the noon
The blue sea was the blue sea
Similar to to the blue sky
The wind moved coco trees
The blue sea and the blue sky
Looked so beautiful
I know
It’s a beautiful live
It’s a beautiful world
It’s a beautiful making
From Beautiful Maker
(Lagi belajar bahasa Inggris sepulang susur pantai Ngliyep-Bale kambang Maret 2000)
Setetes Cinta Untuk Mereka
Disebuah dataran tinggi
Gersang jarang air
Hanya debu pasir dan ladang jagung kering menghiasi
Kaki-kaki kecil tanpa alas
Berjalan jauh berlari-lari kecil
Menuju sebuah gedung lusuh, rapuh
Seragam lusuhnya diterpa angin
Mengiringi langkah-langkah mereka
Menuju masa depannya
Wajah kusam kehitam-hitaman
Menyungging senyum bahagia
Menyambut kami selaksa makna
Tangan-tangan kasarnya
Menggandeng kuat
Seakan tak ingin dilepaskan
Lagu-lagu riang mengiringi
Gurau mereka
Canda tawa mereka
Jaranan...
Lir-ilir...
Aku anak pejuang....
Pak Polisi...
Melihat mereka ....
Ingin mengalir air mata ini....
Melihat mereka...
Terguncang dada ini...Sesak
Ya Rabb, kapan hamba
Diberi kesempatan lagi
Bisa berbagi dengan mereka
Seteetitik kebahagiaan buat mereka
Setetes cinta untuk mereka
(Kenangan KKM’99 Peb00)
Gersang jarang air
Hanya debu pasir dan ladang jagung kering menghiasi
Kaki-kaki kecil tanpa alas
Berjalan jauh berlari-lari kecil
Menuju sebuah gedung lusuh, rapuh
Seragam lusuhnya diterpa angin
Mengiringi langkah-langkah mereka
Menuju masa depannya
Wajah kusam kehitam-hitaman
Menyungging senyum bahagia
Menyambut kami selaksa makna
Tangan-tangan kasarnya
Menggandeng kuat
Seakan tak ingin dilepaskan
Lagu-lagu riang mengiringi
Gurau mereka
Canda tawa mereka
Jaranan...
Lir-ilir...
Aku anak pejuang....
Pak Polisi...
Melihat mereka ....
Ingin mengalir air mata ini....
Melihat mereka...
Terguncang dada ini...Sesak
Ya Rabb, kapan hamba
Diberi kesempatan lagi
Bisa berbagi dengan mereka
Seteetitik kebahagiaan buat mereka
Setetes cinta untuk mereka
(Kenangan KKM’99 Peb00)
Sunday, 16 November 2008
Dialog Hati Dua Sahabat
SAHABAT I
Saudaraku….
Aku ingin bertanya kepadamu
Ku harap dikau bersedia untuk mengurangi kegersangan ini
Dengan siraman kesejukan
Saudaraku….
Ketika gurun gobi sudah meluas sampai ketepian tembok raksasa,
Dan karang-karang terjal dipulau sempu mulai terkikis
Ketika rumput-rumput mulai menggeliat dengan mesra
dan burung hantu mulai masuk ke peraduannya
Aku tak kuasa lagi membelenggu jari-jemariku untuk menari-nari
dan melantunkan tembang kehidupan
Saudaraku….
Ketika jeruk tidak lagi berasa manis
Dan kenanga mulai merecoki hidung
Dengan baunya yang menyakitkan
Akankah orang masih menganggap mawar sebagai lambang kasih
Dan edelweis sebagai lambing keabadian
Seperti yang dulu diajarkan oleh mamaku
Ataukah memang aku harus menjadi seorang Martin Luther King yang pemberontak
Dari pada menjadi sosok tumenggung yang selalu sendika dawuh
Saudaraku….
Kalaulah Jiwa patriotisme Che Guavera kau hempaskan dalam dadaku,
Lalu kau sisipi dengan jiwa kasih bunda Theresa, dan semangat dari Ivan gori
Semuanya mungkin hanya akan memenuhi dadaku
dan akan membuatku semakin kesulitan untuk menyerap udara
Biarkanlah aku tumbuh dalam tubuhku sendiri
Tiada baiknya tubuh itu diisi dengan jiwa lain
Bantulah aku untuk menngerakkan kembali jari-jemariku
Dengan aliran darah yang sama seperti sepuluh tahun lalu
310700 nug
SAHABAT II
Saudaraku…
Seandainya dapat, aku sangat ingin memberikan setitik embun
Untuk menyirami kegersangan itu
Saudaraku….
Meski langit tertutup senja
Dan burung-burung kembali ke sarang
Meski karang-karang terjal dikikis oleh kerasnya ombak
Dan raut bumi mulai menua…
Apakah dunia akan kembali menutup layar
Dan berhenti melantunkan tembang kehidupan
Sementara keesokan harinya Sang surya dengan langkah malu-malu
menyembul dari balik pegunungan
Kemudian dengan memupuk kepastian iapun keluar dari persemayaman
Dengan membawa berjuta harapan bahwa….
Manusia, pepohonan, kupu-kupu, bunga-bunga, ikan-ikan, bahkan semutpun menantikan sinarnya
Saudaraku….
Seandainya dapat, buah jeruk tak pernah memberikan rasa masam
Dan kalaupun sampai membusuk, kenanga tetap dan akan semerbak wanginya
Biarlah mawar sebagai lambang kasih
Dan edelweis dianggap sebagai lambang keabadian
Agar mama tak sia-sia mengajarkannya padamu
Tapi carilah makna dibalik semua yang diajarkannya
Bukan seorang pemberontak yang ia inginkan, bukan pula jadi tumenggung yang selalu manut
Tapi yang ia harapkan dirimu sendiri
Yang punya semanagt Kholid bin Walid sang Singa padang pasir
Dan jiwa besarnya pemuda Muhammad yang lemah lembut
Karna yang ia tahu….
Ada sesuatu yang merah membara dalam dadamu
Bukan kobaran bola api amarah tapi seberkas sinar cemerlang
Yang kau bungkus dengan berlapis-lapis penutup
Saudaraku….
Seandainya dapat, akan kucabik-cabik dan kubongkar penutup-penutup itu biar sinarnya memecah menghiasi dirimu
Dan tak ada lagi sampah-sampah yang memenuhi dan menyesakkan pernafasanmu
Dan membuang jiwa lain yang merasukimu
Biar yang ada dalam dirimu hanya dirimu
Dan sinarmu adalah semangatmu yang akan menggerakkan kembali jemarimu seperti seepuluh tahun yang lalu
Saudaraku….
Meski aku tak tahu dalamnya lautan, namun hanya doa yang sanggup mengiringi langkahmu menuju sinarmu
010800 (yan)
Saudaraku….
Aku ingin bertanya kepadamu
Ku harap dikau bersedia untuk mengurangi kegersangan ini
Dengan siraman kesejukan
Saudaraku….
Ketika gurun gobi sudah meluas sampai ketepian tembok raksasa,
Dan karang-karang terjal dipulau sempu mulai terkikis
Ketika rumput-rumput mulai menggeliat dengan mesra
dan burung hantu mulai masuk ke peraduannya
Aku tak kuasa lagi membelenggu jari-jemariku untuk menari-nari
dan melantunkan tembang kehidupan
Saudaraku….
Ketika jeruk tidak lagi berasa manis
Dan kenanga mulai merecoki hidung
Dengan baunya yang menyakitkan
Akankah orang masih menganggap mawar sebagai lambang kasih
Dan edelweis sebagai lambing keabadian
Seperti yang dulu diajarkan oleh mamaku
Ataukah memang aku harus menjadi seorang Martin Luther King yang pemberontak
Dari pada menjadi sosok tumenggung yang selalu sendika dawuh
Saudaraku….
Kalaulah Jiwa patriotisme Che Guavera kau hempaskan dalam dadaku,
Lalu kau sisipi dengan jiwa kasih bunda Theresa, dan semangat dari Ivan gori
Semuanya mungkin hanya akan memenuhi dadaku
dan akan membuatku semakin kesulitan untuk menyerap udara
Biarkanlah aku tumbuh dalam tubuhku sendiri
Tiada baiknya tubuh itu diisi dengan jiwa lain
Bantulah aku untuk menngerakkan kembali jari-jemariku
Dengan aliran darah yang sama seperti sepuluh tahun lalu
310700 nug
SAHABAT II
Saudaraku…
Seandainya dapat, aku sangat ingin memberikan setitik embun
Untuk menyirami kegersangan itu
Saudaraku….
Meski langit tertutup senja
Dan burung-burung kembali ke sarang
Meski karang-karang terjal dikikis oleh kerasnya ombak
Dan raut bumi mulai menua…
Apakah dunia akan kembali menutup layar
Dan berhenti melantunkan tembang kehidupan
Sementara keesokan harinya Sang surya dengan langkah malu-malu
menyembul dari balik pegunungan
Kemudian dengan memupuk kepastian iapun keluar dari persemayaman
Dengan membawa berjuta harapan bahwa….
Manusia, pepohonan, kupu-kupu, bunga-bunga, ikan-ikan, bahkan semutpun menantikan sinarnya
Saudaraku….
Seandainya dapat, buah jeruk tak pernah memberikan rasa masam
Dan kalaupun sampai membusuk, kenanga tetap dan akan semerbak wanginya
Biarlah mawar sebagai lambang kasih
Dan edelweis dianggap sebagai lambang keabadian
Agar mama tak sia-sia mengajarkannya padamu
Tapi carilah makna dibalik semua yang diajarkannya
Bukan seorang pemberontak yang ia inginkan, bukan pula jadi tumenggung yang selalu manut
Tapi yang ia harapkan dirimu sendiri
Yang punya semanagt Kholid bin Walid sang Singa padang pasir
Dan jiwa besarnya pemuda Muhammad yang lemah lembut
Karna yang ia tahu….
Ada sesuatu yang merah membara dalam dadamu
Bukan kobaran bola api amarah tapi seberkas sinar cemerlang
Yang kau bungkus dengan berlapis-lapis penutup
Saudaraku….
Seandainya dapat, akan kucabik-cabik dan kubongkar penutup-penutup itu biar sinarnya memecah menghiasi dirimu
Dan tak ada lagi sampah-sampah yang memenuhi dan menyesakkan pernafasanmu
Dan membuang jiwa lain yang merasukimu
Biar yang ada dalam dirimu hanya dirimu
Dan sinarmu adalah semangatmu yang akan menggerakkan kembali jemarimu seperti seepuluh tahun yang lalu
Saudaraku….
Meski aku tak tahu dalamnya lautan, namun hanya doa yang sanggup mengiringi langkahmu menuju sinarmu
010800 (yan)
FUTURE
Kuraih engkau dengan jemariku
Kupanggil engkau dengan hatiku
Kukerahkan seluruh tenaga
‘tuk dapatkan dirimu
Kulangkahkan kakiku
Menghampirimu…
Semakin kumelangkah…
Semakin kau menjauh dari hadapanku
Jalananmu penuh duri
Jalananmu penuh batu-batu kasar
Yang suatu saat akan mengoyak
Kaki-kaki kecil
yang ingin datang menghampirimu
kau duduk santai diatas sana
Menjulang kursimu di awang-awang
Aku tetap akan menghampirimu
Aku merangkak tertatih-tatih…
Aku merayapi bukit bebatuan
Tinggi menjulang bagai bukit kapur
Dan melewati jurang yang terjal
Tak kuhiraukan luka di kaki
Tak kugubris goresan di lengan
Kubiarkan hantaman di kepala
Kubiarkan cambuk-cambuk
mencabik-cabik seluruh tubuhku
Aku akan terus mendaki…
Mendaki…
Dan mendaki…
Untuk menggapai puncakmu…
FUTURE…
(Sidoarjo, ..0399)
Balada Gadis Pemimpi 1
Bolehkah seorang gadis bermimpi
Dapatkah seorang gadis berkhayal
Bisakah seorang gadis berangan-angan
Bolehkah seorang gadis berharap
Dapatkah seorang gadis mengigau
Bisakah seorang gadis berandai-andai
Mungkinkah impian jadi kenyataan
Mungkinkah khayalan jadi kehidupan
Mungkinkah angan-angan jadi kebenaran
Mungkinkah harapan jadi masa depan
Mungkinkah mengigau jadi merantau
Mungkinkah berandai-andai jadi sesuai
Mengapa harus bermimpi
Mengapa harus berkhayal
Mengapa berangan-angan
Jika semua itu kepalsuan
Mengapa selalu hanya berharap
Mengapa selalu mengigau
Mengapa berandai-andai
Jika tak mau hadapi kenyataan
Hadapilah wahai gadis …
Kenyataan ini….
Walau pahit adanya
Tapi bila dikenang…
Akan manis adanya
(Sidoarjo, 300799)
Kerinduan
Rindu…
Ada satu rindu.
Merayap habis
Mengikis kalbu
Rindu…
Rindu apa
Rindukah belaian ibu
Rindukah kampung halaman
Rindukah kekasih
Rindu apa…
Rindu…
Ada satu rindu
Menyayat hati
Menyesakkan jiwa
Rindu…
Rinduku pada sepertiga malam
Rinduku pada Ar-Rahman
Rinduku pada tangisan halus lailmu
Rinduku pada pengaduan
Rindu…
Ya…ada satu rindu
Meluap pasrah
Tiapa kendali
Rindu…
Rinduku pada sujud panjang
Rinduku pada sajadah itu
Rinduku pada rumah-Mu
Rinduku di medan perjuangan
Rinduku untuk kembali pada-Mu
(Dari seorang hamba yang merindu - Malang, 190999)
Tangisan Pertiwi
Oh ..bumiku pertiwi
Andai kau bisa menangis
Mungkin kau sudah meraung-raung
Diapakan saja aku ini…
Badanku sakit semua…
Bentrokan dimana-mana
Pemboman dimana-mana
Kapan damai menyertaiku
Kapan aku bisa mendengar …
Nyanyian indah anak bangsa
Seperti dulu lagi…
Bumi Pertiwi nan Malang,
(Usai PilPres GusDur- Mega, 20 Oktober ’99)
NASIB UAS
Hari Senen,
Meringis
Hari Selasa
Pesimis
Hari Rabu
Menangis
So Nilainya Jadi
Kembang Kempis
Gimana Kerjaannya
Bisa Lariiis…
Padahal Semuanya
Udah Pada Abiiiiss !!!!
Menjelang hari terakhir UAS
(Malang, Pertengahan Januari 2000)
Balada Gadis Pemimpi 2
Wahai gadis pemimpi
Jangan kau slalu bermimpi
Mimpi hanyalah hayalan
Mimpi adalah buaian
Dikala orang lelap tertidur
Meski kau tau itu
Mengapa tetap bermimpi
Saat kau tegak berdiri
Menantang matahari
Yang bersinar menerpamu
Tidakkah kau malu
Tidakkah kau sadar
Kau telah terperangkap
Oleh tipu daya nafsumu
Bangunlah
Bangkitlah
Sambutlah mentari
Sambutlah kehidupan
Sambutlah kenyataan
(Malang, Pebruari 2000)
Kupanggil engkau dengan hatiku
Kukerahkan seluruh tenaga
‘tuk dapatkan dirimu
Kulangkahkan kakiku
Menghampirimu…
Semakin kumelangkah…
Semakin kau menjauh dari hadapanku
Jalananmu penuh duri
Jalananmu penuh batu-batu kasar
Yang suatu saat akan mengoyak
Kaki-kaki kecil
yang ingin datang menghampirimu
kau duduk santai diatas sana
Menjulang kursimu di awang-awang
Aku tetap akan menghampirimu
Aku merangkak tertatih-tatih…
Aku merayapi bukit bebatuan
Tinggi menjulang bagai bukit kapur
Dan melewati jurang yang terjal
Tak kuhiraukan luka di kaki
Tak kugubris goresan di lengan
Kubiarkan hantaman di kepala
Kubiarkan cambuk-cambuk
mencabik-cabik seluruh tubuhku
Aku akan terus mendaki…
Mendaki…
Dan mendaki…
Untuk menggapai puncakmu…
FUTURE…
(Sidoarjo, ..0399)
Balada Gadis Pemimpi 1
Bolehkah seorang gadis bermimpi
Dapatkah seorang gadis berkhayal
Bisakah seorang gadis berangan-angan
Bolehkah seorang gadis berharap
Dapatkah seorang gadis mengigau
Bisakah seorang gadis berandai-andai
Mungkinkah impian jadi kenyataan
Mungkinkah khayalan jadi kehidupan
Mungkinkah angan-angan jadi kebenaran
Mungkinkah harapan jadi masa depan
Mungkinkah mengigau jadi merantau
Mungkinkah berandai-andai jadi sesuai
Mengapa harus bermimpi
Mengapa harus berkhayal
Mengapa berangan-angan
Jika semua itu kepalsuan
Mengapa selalu hanya berharap
Mengapa selalu mengigau
Mengapa berandai-andai
Jika tak mau hadapi kenyataan
Hadapilah wahai gadis …
Kenyataan ini….
Walau pahit adanya
Tapi bila dikenang…
Akan manis adanya
(Sidoarjo, 300799)
Kerinduan
Rindu…
Ada satu rindu.
Merayap habis
Mengikis kalbu
Rindu…
Rindu apa
Rindukah belaian ibu
Rindukah kampung halaman
Rindukah kekasih
Rindu apa…
Rindu…
Ada satu rindu
Menyayat hati
Menyesakkan jiwa
Rindu…
Rinduku pada sepertiga malam
Rinduku pada Ar-Rahman
Rinduku pada tangisan halus lailmu
Rinduku pada pengaduan
Rindu…
Ya…ada satu rindu
Meluap pasrah
Tiapa kendali
Rindu…
Rinduku pada sujud panjang
Rinduku pada sajadah itu
Rinduku pada rumah-Mu
Rinduku di medan perjuangan
Rinduku untuk kembali pada-Mu
(Dari seorang hamba yang merindu - Malang, 190999)
Tangisan Pertiwi
Oh ..bumiku pertiwi
Andai kau bisa menangis
Mungkin kau sudah meraung-raung
Diapakan saja aku ini…
Badanku sakit semua…
Bentrokan dimana-mana
Pemboman dimana-mana
Kapan damai menyertaiku
Kapan aku bisa mendengar …
Nyanyian indah anak bangsa
Seperti dulu lagi…
Bumi Pertiwi nan Malang,
(Usai PilPres GusDur- Mega, 20 Oktober ’99)
NASIB UAS
Hari Senen,
Meringis
Hari Selasa
Pesimis
Hari Rabu
Menangis
So Nilainya Jadi
Kembang Kempis
Gimana Kerjaannya
Bisa Lariiis…
Padahal Semuanya
Udah Pada Abiiiiss !!!!
Menjelang hari terakhir UAS
(Malang, Pertengahan Januari 2000)
Balada Gadis Pemimpi 2
Wahai gadis pemimpi
Jangan kau slalu bermimpi
Mimpi hanyalah hayalan
Mimpi adalah buaian
Dikala orang lelap tertidur
Meski kau tau itu
Mengapa tetap bermimpi
Saat kau tegak berdiri
Menantang matahari
Yang bersinar menerpamu
Tidakkah kau malu
Tidakkah kau sadar
Kau telah terperangkap
Oleh tipu daya nafsumu
Bangunlah
Bangkitlah
Sambutlah mentari
Sambutlah kehidupan
Sambutlah kenyataan
(Malang, Pebruari 2000)
Monday, 27 October 2008
Jihad Fii Sabilillah
Lahir adalah awalnya
Hidup adalah tandaNya
Waktu adalah perantara
Umur adalah peringatan
Kesempatan adalah jalannya
Jihad adalah cita-cita
Syahid adalah ujungnya
Cinta Ilahi adalah tujuannya
-Sidoarjo, 260498-
BREAK!!!
Suram…
Glambyar….
Semakin lenyap…
Semakin hilang….
Semoga tak ada bekas…
Semoga tak lagi ingat…
Akankah bias lupa
Akankah bias jauh
Tapi aku inginkan satu…
Ingin apalagi?...
Yang tak kumengerti…
Bila ada arti tersembunyi
Namun….
Sepertinya tak akan kembali lagi….
(26/8/98)
Hidup adalah tandaNya
Waktu adalah perantara
Umur adalah peringatan
Kesempatan adalah jalannya
Jihad adalah cita-cita
Syahid adalah ujungnya
Cinta Ilahi adalah tujuannya
-Sidoarjo, 260498-
BREAK!!!
Suram…
Glambyar….
Semakin lenyap…
Semakin hilang….
Semoga tak ada bekas…
Semoga tak lagi ingat…
Akankah bias lupa
Akankah bias jauh
Tapi aku inginkan satu…
Ingin apalagi?...
Yang tak kumengerti…
Bila ada arti tersembunyi
Namun….
Sepertinya tak akan kembali lagi….
(26/8/98)
Subscribe to:
Posts (Atom)