^_^

Markaz Pelangi.blogspot.com - Supported By Ummu Sakha - copyright © 2009

Thursday, 22 May 2014

Bilangan berpangkat dan Akar Pangkat










Jika ada pertanyaan seputar matematika dan ingin langsung direspon please kirim pesan ke FB Ira Rusdiana (ummu_sakha@yahoo.co.id)


Sunday, 2 March 2014

Sebuah Sekolah untuk Para Binatang

Dikisahkan kembali dari kisah Thomas Amstrong

Syahdan ditengah-tengah hutan belantara Sumatra berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan status "disamakan dengan manusia". Sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia. Karena sekolah tersebut berstatus "disamakan", tentusaja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yg sudah terstandarisasi dan telah ditetapkan oleh manusia.

Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah setiap siswa harus berhasil pada lima mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 untuk masing-masing mata pelajaran. Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut, yaitu terbang, berenang, memanjat, berlari, dan menyelam. Mengingat bahwa sekolah ini berstatus "disamakan dengan manusia", para binatang ini berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainnya. Oleh karena itu, berbondong-bondonglahberbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana, mulai dari elang, tupai, bebek, rusa, hingga katak.

Proses belajar mengajarpun akhirnya dimulai. Terlihat bahwa beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu. Elang sangat unggul dalam pelajaran terbang. Dia memiliki kemampuan yang berada diatas binatang lainnya dalam hal melayang diudara, menukik, meliuk-liuk, menyambar hingga bertengger didahan sebuah pohon tertinggi.

Tupai sangat unggul dalam memanjat. Dia sangat pandai lincah, dan cekatan sekali dalam memanjat pohon serta berpindah dari satu dahan kedahan lainnya.

Sementara itu, bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang. Dengan gayanya yang khas, dia berhasil menyebrang dan mengitari kolam yang ada di dalam hutan tersebut.

Rusa adalah murud yang luar biasa dalam pelajaran berlari. Kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lainnya yang bersekolah disana. Larinya tidak hanya cepat namun sangat indah untuk dilihat.

Lain lagi dengan katak, dia sangat unggul dalam pelajaran menyelam. Dengan gaya berenangnya yang khas, katak bisa masuk ke dalam air dan kembali muncul di seberang kolam dalam sekejap.

Begitulah pada mulanya murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa pada mata pelajaran tertentu. Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal 8 pada semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mengantongi ijazah. Inilah awal dari semua kekacauan itu.  Para binatang satu persatu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan tidak disukainya.

Burung Elang mulai belajar cara memanjat dan berlari. Sayang sekali untuk pelajaran berenang, walaupun sudah berkali-kali dicoba tetap saja dia gagal. Bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam.


Tupaipun demikian. Dia berkali-kali jatuh dari dahan yg tinggi saat mencoba terbang. Alhasil, bukannya bisa terbang, tubuhnya malah penuh luka dan memar disana-sini.

Lain lagi dengan bebek, dia masih bisa mengikuti  pelajaran berlari, walaupun sering ditertawakan karena lucu. Dia juga sedikit bisa terbang. Namun untuk pelajaran memanjat dia kelihatan hampir putus asa. Berkali-kali dicobanya dan berkali-kali juga dia terjatuh. Luka memar disana-sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu..

Demikian juga dengan binatang lainnya. Meskipun semua telah berusaha dengan susah payah untuk enyedihkan adalah merekapun mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah. Mereka tidak bisa hidupdilingkungan mereka yang dulu. Ya...kemampuan alami mereka telah terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut. Satu demi satu binatang itu mulai mati kelaparan karena tidak bisa lagi mencari makan dengan kemampuan unggul yang pernah dimilikinya.

Tidakkah kita menyadari bahwa sistem persekolahan manusia yang ada saat ini pun tidak jauh berbeda dengan sistem persekolahan binatang dalam kisah ini. Kurikulum sekolah telah memaksa anak-anak kita untuk menguasai semua mata pelajaran dan melupakan kemampuan unggul mereka masing-masing. Kurikulum dan sistem persekolahan telah memangkas kemampuanalami anak-anak kitauntuk bisa berhasil dalam kehidupan menjadi  anak yang hanya bisa menjawab soal-soal ujian.

(diambil dari buku : Rahasia ayah Edi memetakan potensi unggul anak)

Thursday, 7 November 2013

Rumus Volume dan Luas Permukaan Kubus dan Balok







Jika ada pertanyaan dan ingin respon cepat inbox ke fb Ira Rusdiana (ummu_sakha@yahoo.co,id)

Rumus-rumus Lingkaran









Jika ada pertanyaan bisa dilayangkan via facebook : ummu_sakha@yahoo.co.id (quick respon) 

Wednesday, 12 June 2013

Komunikasi pada anak lebih mudah dari pada bicara


Coba bandingkan kedua sikap berikut jika anda mengalaminya,
 Suatu hari Maisha (yang mewkili putra-putri anda)sedang bersiap memulai aksinya untuk berkreasi dengan segudang ide di kepalanya. Ia kemudian mengambil seperangkat peralatan berkreasinya, gunting, kertas, krayon, lem, double tip dll. Tak butuh waktu lama bagi Maisha untuk membuat lautan kertas di ruang tengah. Guntung sana-gunting sini, temple sana-sini, krayon dimana-mana, ditambah lagi ulah si adek yang menggenapkan suasana ruang tengah menjadi semakin “meriah” dengan potongan kertas dank rayon. Ditengah keasyikannya bermain kira-kira apa reaksi umi (mewakili para ibu2 dirumah)melihat pemandangan tersebut. Berikut ini ada 2 sikap umi dan reaksi timbale balik dari Maisha:
1.      U   : Astaghfirullah….Maishaaaa!!!kok jadi berantakan seperti ini!!! Umi kan baru saja membersihkan rumah kok udah diberantakin lagi!!! (teriak umi sambil berkacak pinggang dan mata melotot).
Ayo!!!cepat bereskan, kalau ga’ nanti umi buang semua mainannya dang a boleh berantakin lagi!!!
   M  : Iya iyaaa, nanti aku beresin, aaahhhh….umiii,  aku lagi membuat mainan. (Sambil tetap menggunting tak peduli dengan tatapan uminya)
   U  : Ayo, Maishaaa…cepat beresiiin!!!Kamu ga denger ya!!!
   M  : Iyaa…iya…!!!!!(maisha meletakkan mainannya lalu pergi ngluyur dan beralih mengambil mainan yang lain)
        (Umi semakin berang dan kepla jadi nyut-nyutan)

2.         U  : (Tarik nafas sambil tersenyum menghmpiri Maisha)Maisha , kamu sedang membuat apa, Nak?
M  : Oooh, aku sedang membuat topi Naga dan kostum peri. Lihat!Bagus, kan?! (Sambil tersenyum puas memperlihatkan hasil karyanya.
U : Wah…bagus sekali !!:). Tapi…umi perhatikan rumah kita jadi berantakan. Apa kamu nanti bersedia membersihkannya…
M  : Iya, tentu saja. Aku akan membereskan semua ini setelah aku menyelesikan pekerjaanku. Tapi nanti tolong bantu aku ya…
U  : Ok, trimakasih ya saying
(tak lama kemudian setelah menyelesaikan guntingan yang terakhir, Maisha memunguti sampah sampah yang umi kumpulkan dengan sapu, dan dia membuangnya di tempat sampah lalu membereskan semua peralatan tanpa dikomando dua kali)
Hmmm…umi pun juga bisa tersenyum lega sekligus bangga. Alhamdulillah selain rumah kembali rapih, anakpun juga semkin bertanggung jawab.
Nah bunda seberapa sering kita bersikap yang pertama dan seberapa sering kita bertindak seperti yang kedua. Masa depan prilaku anak ditentukan oleh bagaimana kita mencontohkannya. Dan prilaku ini akan membentuk karakter anak kita ketika mereka dewasa. Kadang-kadang saya juga sering menangis menyesali sikap yang entah sengaja atau tidak tapi yang jelas hanya kita kurang bisa mengendalikan emosi dampaknya akan sangat luar biasa bagi anak. Padahal jika kita mau menarik nafas sejenak dan kendalikan emosi dampaknya akan luar biasa bagi kita, kesehatan jiwa dan raga kita serta bagi masa depan anak-anak kita.
Satu lagi yang tak kalah penting yaitu Communication is more easy than talk. Komunikasi sebetulnya lebih mudah daripada bicara. Dari percakapan yang kedua umi hanya berdialog kepada Maisha, dan ternyata responnya begitu positif sehingga semuanya berjalan lancer dan sesuai target. Sedangkan percakapan yang pertama, umi lebih banyak bicara tapi justru tak menghasilkan ap-apa selain pembangkangan dan rumahpun tetap kotor. Tak ada penyelesaian. Klau itu dilanjutkan bisa jadi sang umi lebih marah, memukul, atau memaksa anaknya untuk membersihkn, sedngkan si ank bisa jadi malah lari , menghindar, atau menuruti dengan tekanan. Tak melahirkan  inisiatif sehingga otaknya tertekan serta mematikan daya kreatifitas si anak, karena anak akan takut jika ia berkreasi lagi akan dimarahi oleh uminya.
Bunda , mari kita beristighfar untuk sikap kita yang keliru dan senantiasa mohon pertolongan dari Allah agar senantiasa diberi kesabaran dan cinta kasih yang mendalam untuk bisa mendidik anak-anak kita dengan sebaik-baik pengajaran. Wallahu a’lam bi shawwab.