^_^

Markaz Pelangi.blogspot.com - Supported By Ummu Sakha - copyright © 2009

Friday, 16 January 2009

Pucuk-Pucuk Kerinduan (PANDERMAN III)

Ingin kutemui kau diujung...
Yang harus kulalui oleh sakitnya derita
Yang melewati terjal bebatuan penghalang cita
Sesaknya penantian yang seakan tiada batas

Semakin ingin kutemui ...
Tertebar benih-benih dahaga dan kehampaan
Kerinduan itu, menghujam tiba-tiba
Seakan tak menghiraukan siapa saja yang datang
Seakan tak mendengar alam yang meraung
Dibawah sana....

Kesendirianku bersama-Nya
Bagai satu cahaya yang ingin kuraih
Karena keraguan yang menyellinap
Menyamarkan kerinduan dengan kerinduan yang hakiki

Namun,...
Sebuah alunan syahdu nuraniku
Mengalir pasti, pantang menyerah
Membawaku menuju...
Pucuk-Pucuk Kerinduan

(300801-terbesit kenangan bersama semilir angin dan gemerlap bintang dilangit dipuncak Panderman)

HATI

Sebuah hati telah membisu
Tertutup rapat dihiasi debu-debu
Pikirannya melayang …
Melantunkan bait-bait puisi kosong
Tak bermakna...

Iri mendengar saat dibacakannya
Sajak-sajak indah Taufik Ismail
Atau puisi beken karya Choiril Anwar
Namun kini hatinya beku
Pikirannya melayang
Melantunkan bait-bait puisi kosong
Tiada arti


Tak bersyukur melihat puisi alam nan indah
Karya Maha Sempurna milik Tuhan

Ada satu kerinduan yang tak mampu
Ia tuangkan dalam bait-bait suara,
Lagu, puisi, atau bahkan do’a

Pikirannya melayang dan hanya mampu
Melantunkan bait-bait puisi kosong
Dan iapun tak tau maksudnya
Hingga ia memahami sebuah arti

Hanya dia dan Tuhannya yang tau jawabnya

(pertengahan 2000)





Pucuk-Pucuk Kerinduan
(Panderman II)

Ku tatap pucuk-pucuk Kerinduan
Lalu kumelangkah...
menepis dingin....
Membiarkan bayu malam
Menerpa bayanganku
Hingga nafas yang tersebgalAsaku mulai pupus

Kutatap pucuk-pucuk Kerinduan
Lalu setetes air,membasahi kerongkongan
Menanamkan kembali rindu di kalbu
Dan membakar asa yang mulai padam
Mendobrak langkah
Menggapai rindu

Disana pucuk-pucuk Kerinduan
Lalui jalanan berliku dan menanjak
Licin dan berdebu…
Diselimuti Kabul tabal
Yang menyesakkan paru-paru
Melewati batu-batu termal
Dan semakin berat ‘tuk melangkahkan kaki
Namun pucuk-pucuk Kerinduan
Menyapa....
Meringankan kembali langkah
Perjalanan dibawah cahaya malam
Sesekali menengok serpihan
Mutiara dibawah sana
Menikmati hamparan luas malam
Lukisan sang Esa
Ditemani sepoi-sepoi malam
Berlindung satu bintang diatasnya
Mendekatkan kalbuku pada Kekasih

Ketika terasa kaki ini menapak
Pada pucuk kerinduan
Merasa takjub dan syukur tiada hingga
Walau ternyata...
Terlihat saja samar Negeri Atas Awan
Dan...Kerinduan munajat-Mu belum terobati
Karena satu titik noda dihati
Tapi ingin tetap kugapai...
Pucuk-pucuk Kerinduan

(180701)

RIOT

Wahai...
Kepada siapa hendak kutanyakan
Sesuatu yang tak kumengerti
Padahal aku tau sesuatu itu dihadapanku

Saat ini ...
Aku berdiri disini, dan aku tau...
Dimana aku kini
Disuatu negeri asing, didunia lain

Tidak...tidak...
Aku kenal negeri ini, aku dekat
Aku tau dan aku sadar aku tetap disini

Wahai...
Kepada siapa hendak kutanyakan...
Bagaimana bisa kuraih harapan
Padahal aku tau sesuatu itu dihadapanku
Sedang aku tak mengenali

Ya...
Kenal...kenali apa yang terjadi pada dirimu

(july 2000)

GAMANG

Saat ini aku berdiri menatap langit...
Sementara anganku jauh menerawang...
Mencari suatu titik
Sebelum aku menyadari dimana...
Dan sedang apa aku kini....

Sehingga,
Aku bertanya, aku bertanya kepadamu...
Apa????
Mengapa???
Dimana???
Untuk Apa???

Aku tau jawabanya, tapi aku tak tau
Aku tau, tapi tak bisa kurengkuh

Asa itu jauh ...
Dan hampir putus asa
Sebuah tulisan bermakna, tapi tak biisa diungkapkan
Sebuah goresan penuh arti, tapi sangat abstrak

Makna dan arti itulah yang dicari
Untuk mengerti sebuah tujuan
Tujuan akhir sebuah kehidupan

(July 2000)

Pucuk-Pucuk Kerinduan (Panderman II)

Ku tatap pucuk-pucuk Kerinduan
Lalu kumelangkah...
menepis dingin....
Membiarkan bayu malam
Menerpa bayanganku
Hingga nafas yang tersebgalAsaku mulai pupus

Kutatap pucuk-pucuk Kerinduan
Lalu setetes air,membasahi kerongkongan
Menanamkan kembali rindu di kalbu
Dan membakar asa yang mulai padam
Mendobrak langkah
Menggapai rindu

Disana pucuk-pucuk Kerinduan
Lalui jalanan berliku dan menanjak
Licin dan berdebu…
Diselimuti Kabul tabal
Yang menyesakkan paru-paru
Melewati batu-batu termal
Dan semakin berat ‘tuk melangkahkan kaki
Namun pucuk-pucuk Kerinduan
Menyapa....
Meringankan kembali langkah
Perjalanan dibawah cahaya malam
Sesekali menengok serpihan
Mutiara dibawah sana
Menikmati hamparan luas malam
Lukisan sang Esa
Ditemani sepoi-sepoi malam
Berlindung satu bintang diatasnya
Mendekatkan kalbuku pada Kekasih

Ketika terasa kaki ini menapak
Pada pucuk kerinduan
Merasa takjub dan syukur tiada hingga
Walau ternyata...
Terlihat saja samar Negeri Atas Awan
Dan...Kerinduan munajat-Mu belum terobati
Karena satu titik noda dihati
Tapi ingin tetap kugapai...
Pucuk-pucuk Kerinduan

(180701)